Keadaan Masjid Al-Aqsa Pada Zaman Nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wa Salam

Al-Masjid Al Aqsa memiliki tempat yang sangat unik dalam kehidupan Nabi Muhammad (saw) karena berbagai alasan. Pertama, karena Al Masjid Al Aqsa adalah pusat kehidupan banyak nabi, dan mereka berbagi ikatan yang luar biasa (seperti yang diajarkan Islam oleh Nabi Muhammad (saw) adalah kelanjutan, penyelesaian, dan kesempurnaan dari agama, dan pesan monoteisme yang diberitakan oleh semua nabi Allah termasuk Nabi Adam AS, Nabi Nuh AS, yang Nabi Muhammad SAW adalah keturunan dari putranya Ismail (as), Nabi Musa (as), Nabi Daud (as), Nabi Sulaiman (as), dan Nabi Isa (as) untuk beberapa nama), Al Masjid Al Aqsa juga menurut definisi memiliki tempat sentral dalam kehidupan dan hati para nabi dan umat mereka. Selain itu, hingga tahun ke-2 Hijrah (623 / 624AD), Nabi Muhammad (saw) berbalik dan menghadap Al Masjid Al Aqsa sebagai arah sholatnya. Sementara itu, jika anda berminat mengunjungi masjid ini, cobalah jasa Tour Aqsa Jakarta.

This image has an empty alt attribute; its file name is 3Tour-aqsa-jordan-mesir.jpg

Namun, dalam masa hidup Rasulullah Sallalahu ‘Alaihi Wa Salam, alasan paling berkesan mengapa Al Masjid Al Aqsa memiliki makna yang begitu besar karena Isra Mi’raj.

Dalam buku-buku Hadis, kita mengetahui bahwa Nabi (saw) pergi mengunjungi Ka’bah di malam hari, dan tertidur. Malaikat Jibril kemudian membangunkannya dan membawanya ke binatang putih bersayap bernama Buraq. Buraq membawa Nabi (saw) dan kemudian melakukan perjalanan ke Yerusalem (perjalanan yang biasanya memakan waktu 40 hari)m dan ditempuh hanya dalam satu malam saja. Saat mencapai Yerusalem, Nabi (saw) bertemu dan memimpin ruh semua nabi sebelumnya dalam solat di situs Al Masjid Al Aqsa, dan kemudian memulai Miraaj ke Surga.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala juga memuliakan masjid ini dalam Al-Quran surat Al-Israa (17:1).

Setelah wafatnya Nabi Muhammad (saw), Khalifah Islam kedua (yang juga merupakan sahabat dekat Nabi Muhammad (saw)), Umar Bin Khattab, memasuki kota tempat masjid tersebut, dan dengan penuh belas kasih membebaskan Yerusalem (disertai oleh 40.000 sahabat) di atas undangan dari pemimpin Kristen pada saat itu, tanpa menumpahkan darah dan dengan jaminan perlindungan bagi kehidupan, harta benda, dan tempat-tempat ibadah orang lain di dalam kota yang ingin tinggal di sana. Karena kepribadian dan karakteristik Umar sangat mirip dan cocok dengan karakter pembebas Yerusalem, yang dinubuatkan dalam tulisan suci, orang-orang di kota itu dengan cepat merangkul dan menerima pemerintahannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *